AJARAN WAHIDIYAH

LILLAH Artinya : segala perbuatan apa saja lahir maupun batin, baik yang berhububungan dengan langsung kepada Alloh wa Rosulihi SAW maupun berhubungan dengan sesama makhluq, baik kedudukan hukumnya wajib, sunnah, atau mubah, asal bukan perbuatanyang merugikan yang tidak di ridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan, melaksanakanya supaya disertai niat beribadah mengabdikan diri kepada Alloh dengn ikhlas tanpa pamrih ! LILLAH TA’ALA baik pamri ukhrowi, lebih – lebih pamri duniawi

BILLAH : merasa dan menyadari bahwa segalanya termasuk gerak gerik kita, lahir batin, tenaga, pikiran dll adalah ciptaan ALLOH MAHA PENCIPTA !. yakni ''laa haula walaa quwwata illaa billaah '' tiada daya kekuatan melainkan karena Alloh SWT.

LIRROSUL Di samping niat Lillah seperti di muka, supaya juga di sertai dengan niat LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rosulullooh SAW

BIRROSUL Penerapannya seperti BILLAH keterangan di muka, akan tetapi tidak mutlak. Dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal – soal yang tidak dilarang oleh Alloh wa Rosulihi SAW. Jadi dalam segala hal apapun, segala gerak – gerik kita lahir batin, asal bukan hal yang dilarang, oleh Alloh wa Rosulihi SAW. Disamping sadar Billah kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rosulullooh SAW ( BIRROSUL )

YUKTII KULLA DZII HAQQIN HAQQOH

Memenuhi segala macam kewajiban yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya tanpa menuntut hak .mengutamakan kewajiban dari pada menuntut hak .contoh ;suami harus memenuhi kewajibannya terhadap sang isteri ,tanpa menuntut haknya dari sang isteri .dan isteri harus memenuhi kewajibannya terhadap suami,tanpa menuntut haknya dari sang suami .anak harus memenuhi kewajibannya kepada orang tua , tanpa menuntut haknya dari orang tua .dan orang tua supaya memenuhi kewaqjibannya terhadap anak, tanpa menuntut haknya dari si anak .dan sebagainya .sudah barang tentu jika kewajiban di penuhi dengan baik, maka apa yang menjadi haknya akan datang dengan sendirinya tanpa di minta .

TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFAH’ FAL ANFA’

Mendahulukan yang paling penting , kemudian yang paling besar manfaatnya . jika ada dua macam kewajiban atau lebih dalam waktu yang bersamaan dimana kita tidak mungkin dapat mengerjakannya ,bersama sama ,maka harus kita pilih yang paling aham ,paling penting kita kerjakan lebih dahulu . jika sama sama pentingnya ,kita ,pilih yang lebih besar manfaatnya

Senin, 24 Desember 2012

SANGGAHAN MASALAH-MASALAH DARI BAPAK KYAI ABDUL MANAN JAZULY SUMENEP MADURA


SANGGAHAN MASALAH-MASALAH
DARI BAPAK KYAI ABDUL MANAN JAZULY
SUMENEP MADURA
Tentang bacaan :يَاسَيِّدِى يَارَسُوْلَ اللهِ
1.      Menurut KH Abdul Manan : kata-kata tersebut sepantasnya untuk munjat.
Sanggahan :
Sungguh benar apa yang dikatakan karena kamus Bahasa arti MUNAJAT adalah pertemuan secara sirri dengan menyampaikan isi hati. Namun kata-kata seperti itu tak ada larangan kalau diucapkan dengan secara terbuka, seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dari Anas bin Malik RA dengan sanad yang shohih yang menerangkan bahwa ada seorang Arobi (pedesaan) sowan dihadapan Rosulullah SAW, meminta dimohonkan hujan kepada Allah SWT kemudian dia mengucapkan beberapa syi’ir yang bait terakhir :
وَأَيْنَ فِرَارُ النَّاسِ إِلاَّ إِلَى الرَّسُوْلِ
*
وَكُنْ لِى مَلْجَأً فِى كُلِّ حَالٍ
Artinya :
Tiada tempat kembali bagi kami melainkan hanya kepada Engkau
Dan tiada tempat kembali bagi seluruh manusia kecuali kepada Rosul
2.      Menurut KH Abdul Manan Jazuli, munajat itu tidak pantas dilakukan kecuali dengan Allah SWT.
Sanggahan :
Kalau hal itu dilihat dari segi HAQIQOT memang benar, tapi kalau ditinjau dari segi SYARI’AT akan berlawanan dengan para Sahabat, Ulama Salaf dan Kholaf  yang melakukan munajat dengan Rosulullah SAW dan orang-orang sholeh yang diistilahkan dengan TAWASSUL, ISTIGOSAH dan TASYAFU’ yang  mereka telah sependapat atas diperbolehkannya.
Keterangan dalam Kitab AT-TAWASSUL karya Al-‘Alamah Al-Mufti Muhammad Abdul Qoyyum Al-Qodiry sebagai berikut :
Para sahabat telah sependapat atas diperbolehkannya TAWASSUL kepada Nabi SAW.setelah wafatnya, pada masa Kholifah Umar RA ada seorang sahabat yang bernama Bilal bin Haris Al-Mazani datang di makam Nabi SAW. Di situ dia matur : Yaa Rosulullah, mohonkan hujan untuk umat-Mu, sungguh mereka tertimpa kehancuran (karena lama tidak hujan). Pada waktu dia tidur dia didatangi atau ditemui Rosulullah SAW dalam mimpinya dan beliau bersabda : Hai Bilal datangi Umar dan katakan kepadanya bahwa mereka akan diberi hujan ……. dst.
Saat itu Kholifah Umar dan para Sahabat yang hadir tiada seorangpun yang mengingkari perbuatan dan perkataan Bilal bin Haris tersebut.
Hikayah ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah, Al Baihaqi, Al Bukhori, Ibnul Barri dan rowi-rowi lainnya.
Syaikh Asy Syukani dalam risalahnya “DURRUN NADLID” menjelaskan bahwa tawassul dengan selain Nabi SAW. Setelah wafat beliau telah berlaku dan disepakati oleh para Sahabat.Dengan ini, barang siapa yang mengingkari atas diperbolehkannya TAWASSUL dengan Nabi SAW.dan orang-orang sholeh berarti dia merusak IJMA’. Padahal pendapat yang merusak IJMA’ itu batal dan ditolak.
Diterangkan dalam Kitab AT-TAWASSUL BIN NABIY halaman 325-326.
3.      Menurut KH Abdul Manan bahwa cara atau bacaan tersebut mengkhawatirkan akan ternodanya iman kita dengan noda-noda syirik
Sanggahan :
Perkataan beliau itu termasuk merusak IJMA’ yang berarti batal dan ditolak.Berdasarkan tidak ingkarnya Kholifah Umar dan para Sahabat (ijma’us Shohabah) atas memanggil dan munajatnya Bilal bin Haris terhadap Nabi SAW setelah beliau wafat.
Perlu diketahui bahwa banyak sekali susunan kata yang telah berlaku yang senada dengan, antara lain :
a)      Kata Syaikh Syamsuddin Al-Mishri, wafat tahun 859 H, sebagai berikut :
فَإِلَى مَنْ تَرَى يَكُوْنُ التِجَآئِى
*
يَارَسُوْلَ الإِلهِ إنْ لَمْ تَغِثْنِى
Artinya : “Duhai Rosul Ilaahi, jika Engkau tak sudi menolong aku;
Ø  Kepada siapa lagi yang engkau ketahui berlindung”
Kata Imam Abdur rohim Al-Baro’I Al-Yamani, wafat tahun 903 H :
وَلَيْسَ إِلَى سِوَاكَ لِى الْتِجَأ
*
وَكُنْ لِى مَلْجَأً فِى كُلِّ حَالٍ
Artinya :
“Dan Engaku tempat berlindungku disegala situasiku
Maka tiada yang kuserahi diriku selain-Mu”
Ø  KataSayyid Abdul Fatah Wafa RA :
مَالِى سِوَاكَ وَلاَأَلْوِى عَلَى أَحَدِ
*
يَاسَيِّدِى يَارَسُوْلَ اللهِ خُدْ بِيَدِى
Artinya :
“Duhai Pemimpinku Duhai utusan Allah, tuntunlah aku;Tiada arti diriku tanpa Engkau, dan aku tak akan kembali kepada siapapun (selain-Mu)”
Ø  Kata Imam Muhammad Al Bushairi, wafat tahun 696 H :
سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الحَادِثِ العَمِمِ
*
يَأَكْرَمَ الخَلْقِ مَالِى مِنْ أَلُوْدُ بِهِ
Artinya :
“Duhai makhluk yang termulya, siapa lagi yang ku serahi diriku dikala tertimpa bahaya yang merata ini kecuali Engkau”
Ø  Kata Imam Ibnu Ma’tuq, wafat tahun 1087 H :
فَقَدْ تَحَمَّلْتُ عَبْئًا فِيْهِ لَمْ أَقُمْ
*
يَاسَيِّدِى يَارَسُوْلَ اللهِ خُدْ بِيَدِى
يُجِيْرُنِى مِنْ عَذَابِ اللهِ والنِقَمِ

إِنْ لَمْ تَكُنْ لِى شَفِيْعًا فِى المِعَادِ فَمَنْ
Artinya :
“Duhai pemimpinku, Duhai Utusan Allah, tuntunlah aku; sungguh … aku menanggung beban yang aku tak mampu memikulnya”
“Bila Engkau tak sudi menolongku dihari kemudian; Maka siapa lagi yang menyelematkan dari siksaan A00llah”
Bagi yang ingin mengetahui labih banyak tentang susunan Tawassul dan Istighotsah yang senada dengan itu, dipersilahkan membaca Kitab Syawahidul Haq dan Sa’adatud Daroini, karangan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dan Kitab-Kitab lainnya,
4.      Dalam risalah Bapak KH Abdul Manan Jazuli terdapat ibarot-ibarot sebagai berikut :
1.    قُلْ لِلّهِ الأَمْرُ جَمِيْعًا
2.    قُلْ لِلّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا
3.    وَلاَتَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلاَّ لِمَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ
4.    وَلاَتَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِلهًا آخَرَ
Sanggahan :
Ibarot-ibarot tersebut tidak sesuai dengan susunan ayat-ayat Al-Qur’an kecuali nomer dua :
Lantas dari mana beliau mengambilnya ?
Kami menemukan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
a)      .بَلْ لِلّهِ الأَمْرُ جَمِيْعًا
Dengan diawali dengan kalimat Bal bukan Qul. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang musyrik Makkah termasuk Abu Jahal bin Hisyam dan Abdillah bin Umayah. Keterangan T. khozin dan T. Jamal
b)      قُلْ لِلّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا
Ayat ini ditujukan kepada orang-orang musyrik dikala mereka mencari penolong selain Allah yang terdiri dari berhala yang mereka jadikan sebagai tuhan sesembahan dengan tanpa dalil dan petunjuk.Padahal berhala-berhala itu tidak berakal dan tidak bisa mendengar, bahkan hanya merupakan benda padat. Begitulah kesepakatan para Mufassirin (T. Jamal, T. Showi dan T.S Munir)
c)      يَوْمَئِذٍ لاَتَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلاَّ لِمَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَرَضِىَ لَهُ قَوْلاً
Ayat ini menggunakan kalimat يَوْمَئِذٍ tidak ada WAWU nya. Ayat ini mempunyai arti bahwa dihari kemudian nanti syafa’at (pertolongan) itu tak akan berguna seseorang kecuali orang yang di izinkan oleh Allah Yang Maha Pengasih untuk menerimanya dan diterima oleh Allah SWT. Salah satu ucapannya ya itu “PENYAKSIAN BAHWA TIADA SELAIN ALLAH” dan dia mati dalam agama Islam walaupun buruk amal perbuatannya.
Ayat ini merupakan dalil yang paling kuat atas terjadinya syafa’at (pertolongan) terhadap orang-orang yang fasiq dan syafa’at itulah yang paling berguna bagi mereka.Tafsir Munir juz II halaman 29.
Wal hasil : setiap orang yang mengucapkan kalimat لاإله إلاّ الله di dunianya dan dia mati dalam agama Islam (husnul khotimah) bisa atau boleh diberi syafa’at.
d)     فَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ إِلهًا آخَرَ (الشعراء : 213) وَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ إلهًا آخَرَ (القصص : 88)
Ayat ini diawali dengan huruf Fak dalam ayat yang pertama dan wawu di ayat kedua dan dengan kalimat مع الله di kedua-duanya serta tidak ada kalimat seperti dalam risalah Bapak KH Abdul Manan diatas.
Adapun ayat yang ada kalimat من دون الله yang sehubungan dengan ayat-ayat tersebut kami temukan dalam surat Yunus : 106 begini :
وَلاَتَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَالاَ يَنْفَعُكَ الأية
Yakni : kamu jangan menyembah selain Allah yang tak bisa memberi manfaat padamu …dst
Ayat-ayat tersebut diatas walaupun redaksinya menunjukkan ‘mumil-laf-dhi- tidak menunjukkan hususis sabab, akan tetapi ayat-ayat tersebut tidak ditujukan kepada orang-orang yang bertawasul dan istighotsah sebagaimana dugaan mereka yang ingkar atas diperbolehkannya bertawassul dan istighotsah.Karena sesuatu yang dilakukan orang-orang kafir (yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut) tidak terdapat dalam prilakunya orang-orang yang bertawassul dan istighotsah.Karena mereka tidak beri’tiqad dan menyembah selain Allah dan tak ada satupun dari mereka yang menganggap para Nabi dan para Wali itu sebagai Tuhan sesembahannya dan sebagai sekutu bagi Allah SWT.Sebagaimana yang dilakukan oleh orang –orang musyrik dalam menyembah berhala.Dan mereka yang bertawassul tidak bertujuan dalam tawassulnya kecuali hanya memohon syafa’at kepada Beliau-beliau, karena beliau-beliau itu sebagai kekasih Allah yang seumpurna dalam keimanannya, sehingga beliau-belaiu diberi izin oleh Allah SWT. Untuk memberikan pertolongannya (pada orang yang berhak)
Firman Allah dalam surat Maryam ayat 87:
لاَيَمْلِكُوْنَ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَدَ عِنْدَ الرَّحْمنِ عَهْدًا
Kebanyakan Mufassirin mengatakan : ”yang dimaksud “AL ‘AHDU” adalah ucapan. Makna ayat tersebut adalah mereka tidak bisa memperoleh pertolongan kecuali orang yang mengucapkan kalimat “LAA ILAHA ILLAH” atau ringkasnya : “tidak bisa memperoleh syafa’at kecuali orang-orang yang beriman.
Dan firman Allah SWT dalam surat Az-Zuhruf ayat 87:
لاَيَمْلِكُ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Yang dimaksud dengan ayat ini adalah berhala-berhala bukan Nabi-Nabi kita SAW, para  Nabi dan Para Wali. Para Nabi dan Para Wali diberi atau diperbolehkan memberikan pertolongannya karena musyahadahnya kepada Allah Maha Benar dengan penuh kewaspadaan dan pengertian. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Anas dengan sanad yang shohih, Beliau Nabi SAW bersabda :
الأَنْبِيَآءُ أَحْيَاءُ فِى قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
“Para Nabi itu tetap hidup dalam kuburnya, mereka bersujud”.
Diriwayatkan oleh Al-Bizari dari Ibni Mas’ud dengan sanad yang shohih bahwa Nabi kita SAW bersabda :
حَيَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ وَمَمَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ . وَأَمَّا حَيَاتِى فَأَسُنُّ لَكُمْ السُّنَنَ وَأَشْرَعُ لَكُمْ الشَّرَائِعَ وَأَمَّا مَمَاتِى فإِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ. فَمَارَأَيْتُ مِنْهَا حَسَنًا حَمِدْتُ اللهَ وَمَا رَأَيْتُ مِنْهَا سَييِّئًا اسْتَفغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ.
“Hidupkumenguntungkan padamu dan matiku juga menguntungkan padamu. Adapun dimasa hidupku aku memberi tuntunan dan mengatur padamu, dan setelah aku mati, semua amal perbuatanmu ditunjukkan padaku, jika aku mengetahui amal kebaikanmu, aku memanjatkan puji kepada Allah dan diwaktu mengetahui amalmu yang buruk, aku memohonkan ampun kepada Allah untukmu”
Syaikh Ahmad Showi berkata : “Barang siapa beri’tikat bahwa Nabi SAW tidak ada artinya setelah Beliau wafat bahkan menganggap bahwa beliau hanya seperti manusia biasa dialah orang sesat dan menyesatkan”. T. Showi juz I hal 161.
فَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَنَفْعَ بِهِ بَعْدَ المَوْتِ بَلْ هُوَ كَأَحَدِ النَّاسِ فَهُوَ ضَالٌّ وَمُضِلٌّ.
MUHIMMAH
1)      مِنََ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ الكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ (انبياء : 36)
“Sebagian orang-orang Yahudi memindahkan kalimat-kalimat (kitabnya) dari tempat semulanya”
2)      Dari Ibni ‘Umar RA bahwa Rosulullah SAW :
أَخْوَفُ مَا أَخَافَ عَلَى أُمَّتِى رَجُلٌ مُتَأَوِّلٌ بِالقُرْأَنِ يَضَعُهُ فِى غَيْرِ مَوْضِعِهِ
“Sesuatu yang paling aku takuti atas umatku adalah orang menakwil Al Qur’an, dia menempatkan (isi) Al Qur’an di tempat yang lain (bukan tempatnya)”
3)      Diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Ibni Umar RA. Beliau menguraikan sifat-sifat kaum Khowarij :
إِنَّهُمْ انْطَلِقُوْا إِلَى آيَاتٍ وَرَدَتْ فِى الكُفَّارِ فَحَمِلُوْهَا فِى المُؤْمِنِيْنَ
“Mereka mencari ayat-ayat yang ditujukan kepada orang-orang kafir, kemudian mereka memindahkan ayat-ayat itu untuk orang-orang mukmin”.
4)      Nabi kita SAW bersabda :
الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّارِ
“Kaum Khowarij itu anjing-anjingnya neraka”. H.R Hakim dari Abi Umamah atau H. Shohih
5)      Mempersamakan orang-orang Islam yang memaha satukan tuhan dalam ibadahnya dengan orang-orang kafir yang mengingkari Allah bahkan menyembah sesembahan selain-Nya akan berlawanan. Firman Allah SWT :
أَفَتَجْعَلُ المُسْلِمِيْنَ كَالمُجْرِمَيْنَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ
“Apakah Aku jadikan orang-orang muslim seperti orang-orang mujrimin (berdosa) bagaimana kamu member hukum ?”

TENTANG BACAAN
وَانْظُرْ إِلَيَّ سَيِّدِى بِنَظْرَةٍ  ... إلخ
Bapak Manan menanyakan : Apa mafhumnya nadhroh ? dan apa mafhumnya robbini ?


Jawab :
Kalimat “NADHROH” menurut ahli arti bahasa adalah “kasih sayang”. Dikatakan : dia memandang dengan pandangan nadhroh” artinya dengan pandangan kasih sayang. Menurut istilah,  NADHROH adalah pemberian dan tarbiyah rohaniyah atau pandangan hati, sebagaimana yang terjadi dikalangan para sahabat ketika mendengarkan wahyu yang dibacakan oleh Rosulillah SAW. Mereka berkata :cakuplah kami dengan nadhrohmu (pandanganmu). Namun karena kalimat RO’INA adalah kalimat yang telah digunakan untuk kata-kata penghinaan oleh orang-orang Yahudi,  maka Allah SWT berfirman :
يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوْا انْظُرْنَا (البقرة : 104)
“Wahai orang-orang yang beriman, kamu sekalian yang berkata : “ROO’INA”, dan berkatalah “UNDHURNA” yakni : pandanglah kami, supaya Allah membukakan hari kami”.
Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa’ ayat 46 :
وَلَوْ أَنَّهُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَامًا (النساء : 37)
“Seumpama mereka mau mengatakan : Kami menerima, kami taat, terimalah dan pandanglah kami (berilah kami nadhroh) niscaya perkataan itu lebih baik dan tepat bagi mereka”.
Dalam kitab Al-Ibriz, Sayyid Ahmad Mubarok berkata : “Ada suatu hal (kesadaran) yang diturunkan dari Allah SWT yang tak ada kemampuan untuk menerimanya kecuali Beliau Nabi SAW. Dan setelah dikeluarkan (dipancarkan) dari Beliau Nabi SAW tak ada yang mampu menerimanya kecuali Jiwa Beliau Ghouts.Dan dari Jiwa Beliau Ghouts terbagi-bagi atas Quthub tujuh dan dari tujuh Qhuthub terbagi atas ahli diwan.Dan tashorufnya tujuh Quthub tersebut atas perintah Ghouts.
Dengan ini, yang lebih tepat di masa kita ini adalah selalu memohon nadhroh kepada Beliau Ghouts walaupun kita belum tau siapa pribadi Beliau, namun Beliau sudah mengenal kita dengan jelas. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bazari RA dari Anas RA dengan sanad yang shohih :Beliau Nabi SAW bersabda :
إِنَّ لِلّهَ عِبَادًا يَعْرِفُوْنَ النَّاسَ
“Sesunggauhnya Allah SWT mempunyai hamba-hamba yang selalu mengenal manusia”.
Yakni : mereka melihat hati dan tingkah laku seluruh manusia dengan dibukanya tutup dari pandangan  bathin mereka.
Syaikh Bahauddin An-Naqsabandi berkata :
وَنَظْرُهُ شَافٍ لِلأَمْرَاضِ القَلْبِيَّةِ وَتَوَجُّهُهُ رَافِعٌلِلْعِلَلِ المَعْنَوِيَّةِ, وَصَاحِبُ هذه الكَمَالَةِ إِمَامُ الوَقْتِ وَصَاحِبُ الزَّمَانِ.
“Pandangan Ghouts menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan tawajjuhnya menghilangkan penyakit-penyakit maknawi.Beliau yang memiliki kesempurnaan ini adalah iman pada waktu itu dan sebagai shohibuz zaman (Ghouts Zaman)”. Bahjatus Saniyyah hal : 41.
Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni berkata :
إِذَا مَاتَ القَطْبُ الغَوْثُ انْفَرَدَ اللهُ بِالخَلْوَةِ لِقَطْبٍ آخَرَ
“Jika seorang Quthub yang berkangkat Ghouts meninggal dunia Allah mengganti kekosongan itu dengan quthb yang lain”.
TARBIYAH adalah limpahan rohnya seorang kamil yang memberikan tarbiyah kepada yang diberi tarbiyah (muroba).
Dalam kitab Tafrihil Khothir halaman 5 diterangkan :
Sesungguhnya limpahan rohani orang-orang yang kamil itu ada beberapa cara :
1.      Tarbiyah Beliau di alam nyata dengan musyafahah dan berhadapan
2.      Tarbiyah Beliau dengan tanpa melihat. Tarbiyah ini terkadang bersamaan waktunya (masa hidupnya) antara penarbiyah dan yang ditarbiyah atau sesudahnya. Yang awal seperti tarbiyah Rosulullah SAW kepada Uais Al-Qoroni RA. Yang kedua seperti tarbiyah Syaikh Ja’far Shodiq RA terhadap Aba Yazid Al Basthomiatau seperti tarbiyah Beliau Nabi SAW setelah wafat Beliau.
3.      Tarbiyah dengan atau dalam mimpi. Kedua tarbiyah ini (yang kedua dan ketiga) dinamakan FAIDUL BAROKAH.
4.      Tarbiyah di alam roh seperti tarbiyah Beliau Nabi SAW terhadap para Nabi sebelumnya. Tarbiyah ini disebut “TARBIYATUR RUH”.

TENTANG BACAAN :
اللّهُمَّ بَارِكْ فِيْمَا خَلَقْتَ وهذه البَلْدَةِ
PERTANYAAN :
Apa mafhumnya “MAA KHOLAQTA” padahal diantaranya makhluk Allah SWT adalah Iblis dan neraka Jahanam. Apa mungkin memperoleh barokah dalam Iblis, neraka Jahanam dan sepadanya ?
JAWAB :
Yang dimaksud denga “MAA KHOLAQTA” adalah selain Allah SWT (makhluk).BAROKAH adalah tambahnya kebaikan.Kata barokah menurut aslinya adalah tetapnya kebaikan yang dari Allah dalam sesuatu.Kemudian kalimat itu digunakan dengan arti tambah dan tumbuh.
Keterangan dari kitab : Asy-Sya’roni ‘Alat Tahrir halaman : 7 juz : I sabda Nabi SAW :
إِذَا دَعَوْتُمْ فَعَمِّمُوْا دُعَاءَكُمْ
“Jika kamu sekalian berdo’a ratakanlah do’amu (berdo’alah dengan cara umum)”. Dalam syari’at Islam tidak ada larangan tentang berdo’a dengan cara umum (merata). Padahal diperbolehkannya sesuatu itu tidak terhenti dengan adanya perintah melainkan berdasarkan tidak adanya larangan. Sebagaimana dijelaskan dalam ilmu ushul : “Sesuatu yang tiada dalil nash yang melarang itu boleh dilakukannya”.Keterangan dalam kitab AT-TAWASSUL BIN-NABI halaman : 281.
Telah kita maklumi bahwa Allah SWT mengutus Rosulullah SAW. untuk memberikan rohmat pada seluruh ‘alamin.
Firman Allah SWT :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ (الأنبيآء : 108)
“Syaikh Ahmad As-Showi : yang dimaksud dengan ‘alamin adalah manusia dan jin yakni yang baik dan yang buruk, orang mukmin dan orang kafir.
Sabda Nabi SAW :
اللّهُمَّ اجْعَلْ بِالمَدِيْنَةِ ضِعْفَى مَا جَعَلْتَ بِمَكْةَ مِنَ البَرَكَةِ (رواه البخارى ,صحيح البخارى الأول : 321)
“Kata Madinah menunjukkan arti umum walaupun dibatasi sebagaimana do’a kami juga menunjukkan arti umum”.
Menurut perasaan dan kenyataan tidak ragu-ragu lagi bahwa dimadinah ada beberapa hal yang tidak diridloi oleh AllahSWT, tetapi sebagaimana yang kita ketahui dalam islmu ushul bahwasanya kalau ada suatu syara’ yang menunjukkan arti umum dan menurut kenyataan ditahsis dengan sebagian arti umum itu maka kenyataan itu menaksis para arti umum tersebut, sebagaimana qoidah : Menaksis dengan kenyataan itu diperbolehkan.
Firman Allah SWT :
إنِّى وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ (النمل : 24)
Menurut kenyataan Ratu bilqis tidak memiliki sesuatu yang dimiliki Nabi Sulaiman. Keterangan dalam kitab As-Sulam hal : 23.
Begitu juga do’a kita.Bilamana tidak mungkin memperoleh barokah dalam Iblis dan lainnya dari hal-hal yang tidak diridloi oleh Allah SWT maka itu termasuk menaksis dengan adanya kenyataan, dan bilamana mungkin.



TENTANG BACAAN :
Artinya : Kembalilah dan bersandarlah dalam segala urusanmu kepada Allah SWT, adapun mengulang-ulangi panggilan ini untuk memperdalam memberikan bekas.
Coba lihatlah do’a sebelumnya :
بَلِّغْ جَمِيْعَ العَالَمِيْنَ نِدَاءَنَا هَذا وَاجْعَلْ فِيْهِ تَأْثِيْرًا بَلِيْغًا
Jadi yang menyampaikan kepada Jami’al ‘alamin adalah Allah SWT.
Firman Allah SWT :
وَأَذّنْ فِى النَّاسِ بِالحَجِّ يَأْتُوْكَ رجَالاً وَعَلى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ (الحج : 27)
Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrohim matur kepada Allah SWT :
Yaa Tuhanku bagaimana aku menyampaikan kepada seluruh manusia padahal suaraku tidak bisa sampai pada mereka ?
Allah menjawab : Panggillah mereka dan Akulah yang menyampaikan. Kemudian Nabi Ibrohim naik ke atas gunung Abi Qubais, Beliau memanggil manusia dengan menghadap empat penjuru.

KETERANGAN DALAM KITAB IBNU KATSIR DAN TAFSIR JAMAL :
وَقُلْ جآءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ إِنَّ البَاطِلَ كَانَ زَهَوْقًا
Diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim dari Ibni Mas’ud RA beliau berkata :
دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ يَوْمَ الفَتْحِ وَحَوْلَ الكَعْبَةِ ثَلَثُمِائَةٍ وَسِتُّوْنَ نَصَمًا فَجَعَلَ يَطْعَنُهَا بِعُوْدٍ كَانَ فِى يَدِهِ وَيَقُوْلُ : جَآءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلَ إِنَّ البَاطَلَ كَانَ زَهُوْقًا
Pada waktu terbukanya Negara Makkah, Rosulullah SAW masuk ke dalam Masjid dan disekitar Ka’bah terdapat 360 berhala itu digulingkan oleh Rosulullah SAW dengan memakai kayu yang dibawanya dengan mengucapkan ayat :
وَقُلْ جَآءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلَ إِنَّ البَاطَلَ كَانَ زَهُوْقًا
Syaikh Nawawi Addimsyiqi dalam Syarah Muslinnya menerangkan pada waktu menghilangkan kemungkaran disunnatkan membaca ayat :
وَقُلْ جَآءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلَ إِنَّ البَاطَلَ كَانَ زَهُوْقًا
PERINGATAN :
Firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الفَاخِشَةَ فِى الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan keburukannya orang-orang yang beriman, mereka akan memperoleh siksaan yang pedih di dunia dan akhirat. Allah Maha mengetahui dan kamu sekalian tidak tahu.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar