AJARAN WAHIDIYAH

LILLAH Artinya : segala perbuatan apa saja lahir maupun batin, baik yang berhububungan dengan langsung kepada Alloh wa Rosulihi SAW maupun berhubungan dengan sesama makhluq, baik kedudukan hukumnya wajib, sunnah, atau mubah, asal bukan perbuatanyang merugikan yang tidak di ridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan, melaksanakanya supaya disertai niat beribadah mengabdikan diri kepada Alloh dengn ikhlas tanpa pamrih ! LILLAH TA’ALA baik pamri ukhrowi, lebih – lebih pamri duniawi

BILLAH : merasa dan menyadari bahwa segalanya termasuk gerak gerik kita, lahir batin, tenaga, pikiran dll adalah ciptaan ALLOH MAHA PENCIPTA !. yakni ''laa haula walaa quwwata illaa billaah '' tiada daya kekuatan melainkan karena Alloh SWT.

LIRROSUL Di samping niat Lillah seperti di muka, supaya juga di sertai dengan niat LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rosulullooh SAW

BIRROSUL Penerapannya seperti BILLAH keterangan di muka, akan tetapi tidak mutlak. Dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal – soal yang tidak dilarang oleh Alloh wa Rosulihi SAW. Jadi dalam segala hal apapun, segala gerak – gerik kita lahir batin, asal bukan hal yang dilarang, oleh Alloh wa Rosulihi SAW. Disamping sadar Billah kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rosulullooh SAW ( BIRROSUL )

YUKTII KULLA DZII HAQQIN HAQQOH

Memenuhi segala macam kewajiban yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya tanpa menuntut hak .mengutamakan kewajiban dari pada menuntut hak .contoh ;suami harus memenuhi kewajibannya terhadap sang isteri ,tanpa menuntut haknya dari sang isteri .dan isteri harus memenuhi kewajibannya terhadap suami,tanpa menuntut haknya dari sang suami .anak harus memenuhi kewajibannya kepada orang tua , tanpa menuntut haknya dari orang tua .dan orang tua supaya memenuhi kewaqjibannya terhadap anak, tanpa menuntut haknya dari si anak .dan sebagainya .sudah barang tentu jika kewajiban di penuhi dengan baik, maka apa yang menjadi haknya akan datang dengan sendirinya tanpa di minta .

TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFAH’ FAL ANFA’

Mendahulukan yang paling penting , kemudian yang paling besar manfaatnya . jika ada dua macam kewajiban atau lebih dalam waktu yang bersamaan dimana kita tidak mungkin dapat mengerjakannya ,bersama sama ,maka harus kita pilih yang paling aham ,paling penting kita kerjakan lebih dahulu . jika sama sama pentingnya ,kita ,pilih yang lebih besar manfaatnya

Senin, 24 Desember 2012

TANGGAPAN KH. DJAZULI YUSUF TERHADAP SURAT KH. MAHRUS ALI


TANGGAPAN KH. DJAZULI YUSUF TERHADAP SURAT KH. MAHRUS ALI
            Dengan hormat perkenankan dengan surat ini saya sampaikan  kehadapan Bapak, untuk maksud sebagai ganti shilatur rohmi pribadi saya kepada Bapak. Sehubungan beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 21 April 1985 saya telah menerima kiriman selembar foto copy surat yang berkop “PENGASUH PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR” yang di sudut bawahsebelah kanan tertulis dengan huruf cetak “KH. Mahrus Ali” dan pada sudut kanan atas tertulis “28 Desember 1984”, surat ini saya terima dari salah seorang teman warga NU di Jawa Tengah yang ketepatan sebagai pengamal Sholawat Wahidiyah. Dan saudara tersebut meminta kepada saya supaya mau menanggapi isi foto copy surat yang dikirimkan itu dan selanjutnya supaya disampaikan kepada Bapak KH Mahrus Ali sesuai dengan bunyi kop surat dan tulisan cetak seperti saya sebut di atas.
            Setelah saya pelajari foto copy surat tersebut isinya memang cukup mengejutkan saya yang ketepatan juga sebagai warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Bahkan kalau boleh saya katakan sangat menyinggung perasaan saya.Dan isya Allah juga perasaan warga NU di manapun yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Sebab di dalam foto copy surat itu pada pokoknya menyalahkan kepada amalan Sholawat Wahidiyah bahkan dikatakan bahwa bahwa ajarannya bertentangan dengan syari’at Islam dan lain sebagainya.
            Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk mengabulkan permintaan saudara tersebut di atas untuk menanggapi surat yang dimaksud demi menghindarkan keresahan umat Islam pada umumnya dan khususnya dikalangan warga Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Mengingat warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah tidak sedikit jumlahnya baik yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan bahkan yang di luar Jawa sekalipun.
            Sebagai kelanjutan surat saya ini perkenankan saya ingin memetik (menukil) beberapa kalimat yang pada foto copy surat yang saya disebut di atas dan langsung saya nukil dengan menggunkan bahasa Indonesia sekalipun aslinya bahasa Jawa.
Di dalam foto copy surat itu disebut-sebut sebagai berikut :
1.      “Bahwa Sholawat Wahidiyah itu dibuat-buat oleh KH Abdoel Madjid Ma’ruf sendiri dengan  tidak ada isnad minal adillah dan Ulama-ulama Kediri khususnya Ulama NU tidak ada yang  mengamalkan”.
Sebagai tanggapan saya dalam masalah tersebut :
a.       Sholawat Wahidiyah memang betul ta’lifan (disusun) oleh Beliau KH Abdoel Madjid Ma’ruf. Dan apabila yang dikehendaki oleh Bapak dengan dibuat-buat itu dengan maksud lain  sebagai meremehkan hasil karya seseorang, itu adalah hal yang tidak terpuji untuk dilakukan atau diucapkan oleh seorang Ulama besar seperti Bapak. Hal itu sama sekali tidak mendidik, bahkan menunjukkan berkecemuknya beberapa perasaan yang bertentangan dengan diri Bapak (hasud)
b.      Pada kalimat“tidak ada isnad minal adillah”…
Apabila yang Bapak Maksudkan dengan isnad minal adillah itu silsilah yang muttashil kepada Rosulullah SAW, maka saya perlu memberikan penjelasan kepada Bapak agar Bapak lebih memahami masalah tersebut; Bahwa Sholawat itu tidak perlu dan tidak disyaratkan adanya isnad minal adillah. Karena sanadnya langsung kepada Rosulullah Saw.hal itu sebagaimana tersebut di dalam Hasyiyah Showi ‘alal Djalalaini  juz III surat Al Ahzab sebagai berikut :
وَبِالجُمْلَةِ فَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْىِ وَسَلَّمَ تُوْصِلُ إِلَى اللهِ مِنْ غَيْرِ شَيْخٍ لِأَنَّ الشَّيْخَ والسَّنَدَ فِيْها صَاحِبُهَا لِأَنَّهَا تُعْرَضُ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُوْصِلُ عَلَى المُصَلِّى بِخِلاَفِ غَيْرهَا مِنَ الأذْكَارِ فَلاَبُدَّ فَيْهَا مِنَ الشَّيْخِ العَارِفِ وَإِلاَّ دَخَلَهَا الشَّيْطَانُ فَلاَ يَنْتَفِعُ صَاحِبُهَا بِهَا. وَصِيَغُ الصَّلاةِ كَثِيْرٌ لاَتُحْصَى وَأَفْضَلُهَا مَا ذُكِرَ فَيْهَا لَفْظُ الآلِ وَالصَحْبِ فَمَنْ تَمَسَّكَ بِأَيِّ صِيْغَةٍ مِنْهَا حَصَلَ لَهُ الخَيْرُ العَظِيْمُ.
c.       Dan apabila yang Bapak maksudkan isnad minal adillah itu dasar dan qo’idah syar’iyah itu pun perlu saya berikan penjelasan; sebab semua Sholawat baik yang ma’tsuroh (Sholawat yang langsung diajarkan oleh Rosulullah SAW) maupun yang ghoiru ma’tsuroh (selain dari Rosulullah SAW) seperti yang disusun oleh para ulama As Sholihin seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiyat, Sholawat Badr, Sholawat Wahidiyah dan sebagainya. Isnad minal adillahnya langsung dari Al Qur’an dan Al Hadits seperti Firman Allah SWT dan sabda Rosulullah SAW tersebut dibawah ini :
قَالَ تَعَالَى : يَااَيُّهاالّّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوْا تَسْلِيْمًا (الأحزاب)
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا (رواه مسلم)
Atas dasar ayat Al Qur’an dan Al Hadits di atas, semua Sholawat dengan tidak terkecuali mempunyai kedudukan yang sama, sekalipun maziyah dan kegunaannya berlainan. Sebagaimana disebut dalam kitab Sa’datud Daroini halaman 373 sebagai berikut :
لِاَنَّ النّبِيِّ صَلَّى أَخْبَرَنَا بِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ ذَالِكَ فَاعِلُ مُطْلَقِ الصّلاَةِ وَلَمْ يُقَيِّدُ ذَالِكَ الإِسْتِحْقَاقِ بِكَوْنِ الصَّلاَةِ المَفْعُوْلَةِ هِىَ الصَّلاَةُ الَّتِى عَلَّمْنَا وَلَيْسَ مَعْنَى مُطْلَقِ الصَّلاَةِ المَذْكُوْرَةِ فِى الآيَةِ وَالأَحآدِيْثِ مُجْمَلاً حَتَّى يَتَوَقَّفُ عَلَى البَيَانِ. وَقَالَ بَعْدَمَا ذكر دلّ مَا تَقَدَّمَ عَلَى أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَيِّ صِيْغَةٍ كَانَتْ مِنْ صيغ الصَّلاَةِ المَأْثُوْرَةِ أَوْ غَيْرهَا يَسْتَحَقُّ الأتى بِهَا الأجر المَوْعُوْد الوارِد فِى الأَحآدِيْثِ الصَّحِيْحَةِ
d.      Pada kalimat Ulama-ulama Kediri khususnya Ulama NU tidak ada yang mengamalkan”
Bapak hendaknya sadar, bahwa Kediri warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah tidak sedikit jumlahnya bisa juga sampai ribuan bahkan puluhan ribu. Apakah diantaranya sekian ribu itu tidak mungkin terdapat Ulamanya ?
Di samping itu Bapak perlu mengingat kembali tokoh dan Ulama  besar NU seperti beliau Al Mukarrom Bapak KH. Wahab Hasbullah dimana pada waktu diadakan peringatan hari ulang tahun Sholawat Wahidiyah yang pertama di Pondok Kedunglo Kodya Kediri, beliau dalam pidato sambutannya antara lain menyebutkan :قَبِلْتُ إِجَازَتَكَ kepada bapak Al Mukarrom KH. Abdoel Madjid Ma’ruf. Berarti Belaiu menerima ijazah Sholawat Wahidiyah dari Al Mukarrom KH. Abdoel Madjid Ma’ruf dan beliau menyetujui Sholawat Wahidiyah dijadikan amalan disamping amalan-amalan yang lain. Perlu Bapak Ketahui juga bahwa Beliau Al Mukarrom Al Marhum KH.Jazuly Pengasuh Pondok Pesantren Ploso Mojo Kediri Jatim.Beliau juga menerima Sholawat Wahidiyah dan semasa hidupnya juga ikut mengamalkanSholawat Wahidiyah bahkan beliau menganjurkan kepada para santrinya untuk ikut mengamalkan bukankah beliau-beliau itu Ulama-Ulama NU.
2.      Disebut juga dalam foto copy surat tersebut di atas “bahwa di Pondok Pesantren Lirboyo para santri diharamkan mengamalkan Sholawat Wahidiyah sebab ajarannya bertentangan dengan syari’at yaitu KH.Abdoel Madjid Ma’ruf telah menanggung, barang siapa yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah selama 41 hari ditanggung besuk hari Qiyamat masuk surga sampai anak keturunannya. Ini namanya ujub bil amal dan itu termasuk minal kabaair”.
Kalimat-kalimat di atas perlu saya berikan beberapa tanggapan :
a.       Pada kalimat “Ajarannya bertentangan dengan syari’at, yaitu KH. Abdoel Madjid Ma’ruf …… dst”.
Di sini Bapak menuduh seseorang dengan tanpa menunjukkan bukti. Dari mana Bapak dapatkan, sehingga Bapak berani berfatwa seperti itu ? Tuduhan kepada seseorang tanpa menunjukkan bukti adalah fitnah والفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ القَتْلِ . Hal yang demikian mestinya tidak boleh terjadi pada seorang muslim, lebih-lebih yang bertitel Ulama besar yang berpengaruh.
b.      Sedang ajaran Wahidiyah pada intinya adalah LILLAH dan BILLAH yang dimaksud adalah SYARI’AT dan HAKIKAT (periksa dalam lembaran Wahidiyah). Dan masalah ini bukan masalah baru dalam Islam. Sebab dalam  kitab Kifatul Atqiya’ halaman 9 sebagai berikut :
الشَّرِيْعَةُ وُجُوْدَ الأَفْعَالِ لِلَهِ وَالحَقِيْقَةُ شُهُوْدَ الأَفْعَالِ بِاللهِ
Padahal orang yang beramal dengan tidak menerapkan LILLAH dan BILLAH terkecam dan amalnya tidak diterima di sisi Allah SWT. Hal ini sesuai denga keterangan dalam kitab Hikam Lil Ibni ‘Ibad Juz II sebagai berikut :
كُلُّ عَمَلٍ لاَ إِخْلاَصَ فِيْهِ لَيْسَ بِاللهِ وَلاَ لِلّهِ مَرْدُوْدٌ عَلَى صَاحِبِهِ وَمَضْرُوْبٌ بِهِ وجْهِهِ وَبِهذا يَتَبَيَّنَ لَكَ غُرُوْر اكْثرِ الخَلْقِ فَى عُلُوْمِهِمْ وَاَعْمَالِهِمْ إِلاَّ مَنْ رَحِمَهُ اللهُ
c.       Seterusnya Bapak menyebut-nyebut dengan kalimat “zaman  41 hari” …….
Dari sini menunjukkan bahwa Bapak belum pernah tahu Sholawat Wahidiyah. Sebab sepanjang yang saya ketahui selama + 21 tahun saya ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah, belum pernah saya menenui bilangan hari pengamalan 41 hari seperti yang Bapak sebut itu. Yang ada ialah 40 hari.Pada hal di dalam lembaran-lembaran Sholawat Wahidiyah yang berear di masyarakat luas bilangan itu tetap dicantumkan. Berarti Bapak hanya menerima berita kata orang (قِيْلَ وَقَالَ) . Sabda Rosulullah SAW sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ... وكره قيل وقال (رواه البخارى)
Tapi aneh sebelum Bapak mengetahui permasalahan secara detail, Bapak telah berani menjatuhkan fonis hukumnya, yaitu dengan kalimat “malah santri Lirboyo ……. Diharamkan mengamalkan Sholawat Wahidiyah.”. Padahal menurut Kitab Sullam Taufiq mengharamkan sesuatu yang tidak haram menjadi MURTAD. Bapak mengharamkan pengamalan Sholawat Wahidiyah seperti tersebut di atas, jelas tidak berdasar kepada data yang konkrit, yang bisa dipertanggung jawabkan dan dengan dasar dalil syar’I dan hujjah yang wadlihah. Semata-mata hanya dengan khobar qila waqola (قيل وقال) dan ditunjang dengan rokyu Bapak. Alangkah bahayanya ?seperti disebut dalam Hadits berikut ini :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَالَ فِى الدِّيْنِ بالرأي فَقَدْ اتهمنى. (رواه أبو نعيم عن جابر بن عبد الله) .قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَعْمَلُ هَذِهِ الأُمَّةَ بُرْهَنَةُ بِكِتَابِ اللهِ ثُمَّ تَعْمَلُ بِسُنَّةِرَسُوْلِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تَعْمَلُ بِالرَّأْيِ فَإِذَا عَمِلُوْا بِالرَّأْيِ فَقَدْ ضَّلُوْا وَأَضَلُّوْا (رواه أبو نعيم عن أبى هريرة)

3.      Selanjutnya dalam surat tersebut Bapak menuliskan duabuah Hadits untuk dasar bahwa Rosulullah SAW tidak bertanggung jawab kepada keluarganya, lebih-lebih selain Rosulullah SAW. baiklah disini untuk lebih jelasnya hadits itu saya tulis kembali :
وَفِى الحَدِيْثِ : لَنْ يجنى أحدكم عمله قَالُوْا وَلاَ أَنْتَ يَارَسُوْلُ اللهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ تَغَمَّدَنَى اللهُ بِرَحْمَتِهِ . وَفِى الصَحِيْحَيْنِ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ أَنْزَلَ عَلَيْهِ وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ. فَقَالَ يَامعشر قُرَيْشٍ اشْتَرَوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَا بَنِى عَبْدِ مَنَاف لاَأَغْنَى عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَاعَبَّاس عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَاصَفيَّة عَمَّة رَسُوْلِ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَافَاطِمَة بِنْت رَسُوْلِ اللهِ سَلِيْنِى من مالى ما شِئْتِ لاَأَغْنِى عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا (إرشاد العباد : 116)
Pengertian Bapakseperti tersebut diatas, perlu saya berikan tanggapan yaitu pada  Hadits yang pertama dan kedua adalah dasar untuk HAQIQOTUL AMRI, bukan seperti rokyu Bapak tersebut diatas. Adapun masalah syari’at atau lahiriyah seseorang tetap akan menerima balasan amalnya. Hal ini banyak disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :
فَمْنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَاه وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَراه (الزلزلة : 7-8)
إِنَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيْمِ (لقمان : 8)
Pada hadits kedua, kalau hanya sekedar kita baca leterleknya (lafadz-maknanya) seperti pemahaman Bapak itulah jadinya.Untuk itu marilah kita telaah kembali beberapa kitab yang mengupas makna hadits tersebut. Seperti di dalam Kitab Syawahidul Haq oleh Syaikh Yusuf Bin Ismail an Nabhani pada hal 496 beliau memberikan penjelasan sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلّ نَسَبٍ وَسَبَبٍ يَنْقَطِعُ يَوْمَ القِيَامَةِ إلاَّ نَسَبِى وَسَبَبِى (رواه بن عساكر عن ابن عمر وَقَدْ قَالَ تَعالَى (وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى) ولايرضيه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الا سعادة اقاربه الأَقْرب فالأقْرب وَإِنَّمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ "لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا" تَعْظِيْمًا لِجَانِبِ الحَقِّ تَعَالَى.
Dan di dalam Tafsir Syowi dijelaskan mengenai Hadits tersebut sebagai berikut :
وَأَمَّا مَا مَرَّ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةِ بِنْتِهِ أَنَا أَغْنِى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا فَهُوْ تَحْذِيْرٌ لَهَا مِنَ الكُفْرِ الَّذِى بِهِ تَنْقَطِعُ الأَنْسَابُ (حاشية لصاوى على الجلالين ثالث, لقمان)
Pada dasarnya Rosulullah SAW tetap bertanggung jawab dan mensyafa’ati kepada umatnya, lebih-lebih kepada keluarganya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : شَفَاعَتِى لأَهْلِ الكَبائرِ مِنْ أُمَّتِى (رواه احمد ونساء وابن حبان فى صحيحه والحاكم عن جابر)
Pengarangan Kitab Syawahidul Haq memberikan penjelasan dalam masalah tersebut sebagai berikut :
كَيْفَ وَهُوَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَعْطَى الشَّفَاعَةَ فِى سَائِر النَّاسِ فَيَشْفَعُ فِى الأَبْعَدِيْنَ وَيَتْرُكُ قرباءه المؤْمِنِيْنَ ؟ هَذا مِمَّا لاَيَكُوْنُ وَلاَيَتَصَوَّرُهُ عَاقِل (شواهد الحق ص 497)
Sedang selain Rosulullah SAW dapat mensyafa’ati kepada selainnya. Seperti tersebut dalam hadits di bawah ini :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيَدْخُلُ الجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَكْثَرُ مِنْ بَنِى تَمِيْم (رواه احمد ونسائى وابن حبان فى صحيحه والحاكم عن عبد الله )
Lebih-lebih Rosulullah SAW sebagai Sayyidul Anbiya’ wal mursalin wa Sayyidul kholqi ajma’in, apakah masih perlu diragukan syafa’at beliau ?na’udzubillahi min dzalik.
Untuk kalimat selanjtnya dalam foto copy itu saya tidak akan menanggapi,  sebab pada dasarnya hanya merupakan kaitan dari kesimpulan yang Bapak dari ambil dari beberapa keterangan di atas. Ketidak ketelitian Bapak dalam menganalisa sesuatu permasalahan dan kurang cermatnya Bapak dalam menerapkan dalil terjadilah kesimpulan yang tidaktepat itu.



45 komentar:

  1. yg saya tdk setuju beliau itu memakai jubah sbg sulton auliya ghoust hadzazaman amir LDII JUGA NGAKU SBG SULTON AULIYA GHOUST HADZAZAMAN ini apa apaan ilmunya saja bayak nyadur dari kitab alhikam itu milik torekot sadzaliyah , lucu bin aneh kalo beliau itu sbg orang orang yg soleh bolehlah ,kalo salawatnya saya setuju aja tapi tak akan mengamalkan , tapi kolo sbg sulton auliya apa benar membohongi umat itu juga termasuk dosa besar ,apalagi menjual nama rosululoh saw

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak baca kitab ya....komen menunjukn kebodohan anda.

      Hapus
    2. kamu itu sok sok an orang suruh baca kitab
      memang kamu sudah baca kitab

      Hapus
    3. kamu itu sok sok an orang suruh baca kitab
      memang kamu sudah baca kitab

      Hapus
  2. tentang takwil mimpi oleh mbah kholil bangkalan tentang mimpi mengencingi tanah yg gersang menjadi subur ,itu aneh kalo sebagai dasar takwil kyai makruf sbg sulton aulia itu salah besar seharusnya restu beliau bisa memudahkan urusan duniawi sebab urusan duniawi termasuk barang yg najis[ seharusnya takwil dr mbah khalil bangkalan spt ini]

    BalasHapus
  3. dasar dasar yg dipakai rujukan untuk mengesistensikan kelompok ini adalah kitab kitab milik torekot sadzaliyah tapi lucunya tdk mau mengamalkan torekot sadaliyah pingincari mudahnya , dan ini termasuk sbg pencuri pencuri ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru kali ini saya membaca komen org bodoh ngomong seenak bacotnya saja....baru belajar ya

      Hapus
  4. jalan torekot itu lebih sulit , sarat sarat torekot tentang seorang sulton auliya ;;seorang sulton auliya adalah dididik oleh sulton auliya ghoust sebelumnya, diangkat oleh rosululoh saw , disaksikan sulthon sebelum kewafatanya, sanat sanat ilmunya runtut tdk putus ,berani menghabiskan harta bendanya dijln Alloh di awal di tengah dan di akhir kehidupanya, tdk bergantung pd makhluk hanya bergantung pd alloh swt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar bro....dari pada malu maluin

      Hapus
  5. menjual nama rosululoh itu termasuk kategori hadis palsu , kebanyakan aku mengamati kelompok wahidiyah itu orang orangnya hubudunya [ persis takwil mimpi tentang mengecingi tanah yg gersang menjadi subur]

    BalasHapus
    Balasan
    1. rahadyan mahatma
      Belajar dulu baek baek nak baru COMENT
      Ternyata BANYAK SEKALI KITAB YG BELUM ENTE BACA

      Hapus
  6. kalo mimpi towaf keliling kakbah, mencium hajar aswat , di pangku rosululoh badanya kemasukan bulan itu okelah dan ini barang barang yg baiklah takwilnya, ini kencing yg jelas jelas hal yg najis dijadikan dasar sbg bakal menjadi wali kutub ghoust hadzazaman bisa bisa di ketawai oaloh mbah mbah keliru takwil jd landasan

    BalasHapus
  7. tentang murit yg tanya sama rosululoh tentang hadzazaman di jawab oeh rosululoh di tunjuk mualif solawat wahidiyah , itu juga harus dicek tentang kejujurannya hadist saja bisa di palsu, kalo memang murit itu bisa ketemu rosululoh dicek khaliyahnya sehari hari,,pak de saya mengamalkan solawat selama 30 th tiap hari ribuan solawat yg dibaca saja tdk bisa mimpi ktm rosululoh saw , dlm dunia torekot sadzaliyah kalo tdk mujahadah serius saja tdk mudah , kalo cuma menghadikan rosululoh seolah olah mudah lah tp kolo benar benar nyata mimpi atau kasab tdk mudah

    BalasHapus
  8. Maaf pak sblmny. Jika sy lancang dan tdk sopan sblm melakukan fonis alangkah baiknya datang kepondok dan bertNya lgs kepada pimpinan pondok. Minta penjelasan dan kelarifikasi dari sumbernya. Tdk lgs menjayuhkan fonis.seakan2 paling bener . Yen pemimpin seperti itu hancur tatanan

    BalasHapus
  9. ini bukan rahasia umum lagi , belajar torekot itulah yg tdk pernah putus sanat sanatnya dan tdk mudah menjadi seorang kyai apalagi seorang mursit apalagi seorang ghaust hadzazaman , sareatnya bagus kitabnya bagus belum tentu bisa ,jdi seorang kyai , apalagi mursit terutama torekot sadzaliyah yg berhak atas kitab kitab milik milik torekot sadzaliyah misal kitab al hikam dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. anda mengatakan seorang toreqot,,,tapi tidak mencerminkan seseorang yang bertoreqot...kalau anda tidak suka alangkah baiknya anda diam...koreksi sendiri toreqot anda...sudah baik atau belum..

      Hapus
    2. anda mengatakan seorang toreqot,,,tapi tidak mencerminkan seseorang yang bertoreqot...kalau anda tidak suka alangkah baiknya anda diam...koreksi sendiri toreqot anda...sudah baik atau belum..

      Hapus
  10. dlm alur torekot sadzaliyah dari abuya dimyati banten seorang mursit harus berani menghabiskan rizkinya dijalan alloh diawal ditengah dan di akhir kehidupanya ini salah satu sarat pokok , dan penghidupanya hanya bergantung kpd Alloh dll lihat blok pusat kekalifahan torekot sadzaliyah qodiriyah di yogyakarta dlm sarat sarat itu aku baca saya setuju sekali biar orang tdk mudah mengklaim dirinya atau gurunya seorang mursit apalagi seorang ghoust hadzazaman dan perlunya khalayak tau standarisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan lain jalan,, lain pemandangannya .. tapi tetap satu tujuan kota yg hendak dicapai.

      Hapus
  11. pepatah jawa mengatakan ilmu iku kanthi ngenger , laku lakon lan tekon bakal tekan tapi zaman ini orong bisa baca kitab hapal kitab sudah dianggap berilmu snoux horgonye juga bisa , iman harus diuji dihadapan guru yg pari purna , gimana ketakwaannya gimana kesahitanya dan ciri ciri sbg auliya Alloh, sidikin dan al ghoust hadzazaman gitu looooooo

    BalasHapus
  12. KATA GUS DUR : "KITA HARUS BERANI MENGHADAPI DAN MENGATAKAN BAHWA (KH. MAKHRUS ALI DAN ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN SHOLAWAT WAHIDIYAH SESAT/HARAM, Red.) MEREKA ADALAH DHOLLUN MUDZILLUN/ORANG YANG SESAT DAN MENYESATKAN UMMAT DAN MASYARAKAT. MAKA JANGANLAH TERPENGARUH ISU DAN HASUDAN MEREKA ITU. DENGARKAN BAIK-BAIK SAMBUTAN GUS DUR DALAM MUJAHADAH KUBRO DI PONPES KEDUNGLO KEDIRI JATIM BERIKUT :-------------------------------------------------------------------------------SAYYIDII YAA ROSUULALLOH .!
    GUS DUR (KH. ABDURRAHMAN WACHID) ORA TERIMO WAHIDIYAH DISESATKAN (DIHARAMKAN) !
    http://youtu.be/nvo3-uEBDz0
    y

    BalasHapus
  13. tidak ada orang yg rela dikatakan sesat tapa pada kenyataannya memang sesat, romo lathif memberi pengumuman bahwa Alloh akan mengangkat salah seorang jemaah wahidiyah dari sumenep madura menjadi wali Alloh lucu kalau didengar pengangkatan wali Alloh ada pengumumannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang buta walaupun diberitahu tetap ngk ngerti...ingat seandainya Rasulalloh SAW Beliau anda pada zaman sekarang pasti anda kontras...sebab berdsar otak anda Rasulalloh SAW.tidak pernah sekolah dan dari keluarga yg miskin. bagaimana ada percaya. Banyak baca kitab ya terutama sejarah para Sultonul Aulia....supaya ngk ditertawai orang

      Hapus
    2. nabi aja jauh2 hari sudah ada yg tahu akan kenabiannya..dan bakal jadi nabi

      Hapus
    3. nabi aja jauh2 hari sudah ada yang tahu akan kenabiannya... bakal jadi nabi

      Hapus
  14. rahadyan mahatma@ anda kalau mau menyalahkan harus punya dasar juga donk.. haruz fair/fer.... ok thx

    BalasHapus
  15. Yahya Kebunpao@anda kurang membaca sejarah sejarah waliyullah sebelumnya,, makanya belajar dulu sebelum memberi komentar.. ok thx

    BalasHapus
  16. Lihatlah penuturan di atas?
    Lihat juga komentar-komentanya?
    Siapa yang sopan dan tidak sopan?
    Siapa yang mencaci? Berkata kasar? Berkata dengan kebencian?
    Memang terlihat siapa di antara kita yang menerapkan Akhlaq Rasul saw dan tidak...
    Tutur bahasa juga berbeda...

    BalasHapus
  17. Hmmmmssss....satu jalan alloh harus bertengkar...
    Kapan keimanan bakal mendarah daging n persatuan menjadi dasar bersatu kalo satu agama pecah seperti itu...
    Alloh alloh....

    BalasHapus
  18. Hmmmmssss....satu jalan alloh harus bertengkar...
    Kapan keimanan bakal mendarah daging n persatuan menjadi dasar bersatu kalo satu agama pecah seperti itu...
    Alloh alloh....

    BalasHapus
  19. واسئلو أهل الذكر
    kalau tidak faham jangan ngomong yang tidak'' ,,, tanyakanlah pada orang yang lebih tau dan ngerti,,, maksudnya orang yang alim billahi wa biahkamihi,,,




    BalasHapus
  20. Alangkah baiknya dipelajari dulu, sebelum kita mengomentari sesuatu Hal. Ibarat kita masih melihat sudut rumah, tapi kita udah mengomentari ruang tamu Dan isi dapur,

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. semoga saja kita pengamal wahidiyah .tetap berada di barisan.fafirru illallah.dengan tegap mengibarkan bendera wahidiyah .

    BalasHapus
  23. kun fayakun mati kabeh koe mlbu neroko koe seng ngelek ngelek wahidiyah

    BalasHapus
  24. koyok wes podo wusul kbeh......
    oyo podo meker dewe2

    BalasHapus
  25. koyok wes podo wusul kbeh......
    oyo podo meker dewe2

    BalasHapus
  26. umpomo sliramu sekar melati...
    aku kumbang nyidam sari..

    BalasHapus
  27. inamal a'malu binniat .kita harus bisa bedakan mana izazah dan mana ibadah.

    BalasHapus
  28. Yg wajib2 sajalah aku penuhi... Amalan2 yg tdk di contohkan nabi males..hhh

    BalasHapus